Kalau Anda pernah melintasi gang-gang sempit di Kampung Bustaman menjelang Ramadan, Anda pasti pernah pulang dengan baju basah kuyup dan senyum yang susah hilang. Itulah Gebyuran Bustaman, tradisi tahunan yang tahun ini memasuki penyelenggaraan ke-14. Digagas bersama oleh warga Kampung Bustaman dan Kolektif Seni Grobak Hysteria, acara ini kembali membuktikan bahwa cara paling meriah untuk menyambut bulan puasa adalah dengan basah-basahan bareng tetangga.
Lebih dari Sekadar Main Air

Gebyuran Bustaman berakar dari tradisi adusan—ritual mandi pembersihan diri yang sudah lama dikenal dalam budaya Jawa sebagai bagian dari persiapan menyambut Ramadan. Dalam kepercayaan masyarakat setempat, membersihkan diri secara lahiriah melambangkan kesungguhan untuk juga membersihkan hati sebelum memasuki bulan ibadah.
Kampung Bustaman sendiri punya sejarah panjang. Kawasan ini dikenal sebagai salah satu perkampungan tua di Semarang yang dulu terkenal dengan jagal kambing dan kost-kostan para pedagang. Kini, kampung ini justru dikenal lewat tradisinya yang unik: merayakan kedatangan Ramadan dengan semangat komunal yang jarang ditemukan di tempat lain.
Diawali Wedak Adem, Ditutup dengan Perang Air

Sebelum air tumpah ruah, ada satu ritual pembuka yang tidak kalah seru: saling mencoret wajah dengan wedak adem—bedak dingin warna-warni yang dibuat dari bahan-bahan alami. Wajah-wajah yang semula serius berubah jadi kanvas berwarna: ada yang biru, ada yang kuning, ada yang merah. Tawa meledak di mana-mana bahkan sebelum setetes air pun jatuh.
Barulah setelah itu, puncak acara dimulai. Saat aba-aba terdengar, ember-ember air yang sudah disiapkan langsung tumpah ke segala arah. Tidak ada yang aman, tidak ada yang benar-benar ingin menghindar. Tua, muda, warga lokal, wisatawan—semua melebur dalam basah-basahan yang penuh kegembiraan. Di sinilah letak keistimewaan Gebyuran: tidak ada hierarki, tidak ada batas usia. Yang ada hanya tawa dan air.
Marimas Jumbo: Teman Setia Setelah Basah Kuyup

Habis perang air, tubuh memang basah—tapi tenggorokan tetap bisa haus. Di sinilah Marimas hadir sebagai pelengkap yang pas. Tahun ini, Marimas turut memeriahkan Gebyuran Bustaman ke-14 dengan menghadirkan Marimas Jumbo untuk para peserta.
Sebelum dan sesudah aksi saling gebyur, minuman rasa buah segar berukuran jumbo ini jadi cara paling sederhana untuk melepas dahaga dan mengisi kembali energi. Karena kalau sudah basah kuyup di bawah terik Semarang, yang paling enak memang duduk sebentar dan meneguk sesuatu yang segar.
“Bersih hatinya, segar suasananya!”
Bukan sekadar slogan—tapi gambaran nyata suasana Gebyuran Bustaman tahun ini.
Merawat Tradisi, Merayakan Ramadan

Kehadiran Marimas di Gebyuran Bustaman bukan sekadar soal minuman. Ini adalah bentuk dukungan nyata terhadap pelestarian tradisi lokal yang punya nilai budaya tinggi. Gebyuran mengajarkan bahwa menyambut Ramadan tidak harus khidmat dalam sunyi bisa juga ramai, basah, dan penuh tawa, selama niatnya sama: membersihkan diri dan membuka hati.
Dan selama tradisi ini terus dirayakan, Marimas akan terus ada menemani warga Semarang menyambut bulan suci dengan semangat yang segar.


