Gerakan Santri Menulis bisa bertahan hingga 32 kali penyelenggaraan. Sabtu, 21 Februari 2026, Pondok Pesantren Azzuhri Semarang menjadi tuan rumah pembukaan GSM ke-32 sebuah program yang sejak awal punya misi sederhana tapi tidak mudah: membiasakan santri untuk menulis, berpikir kritis, dan menyampaikan gagasan mereka dengan jernih.
Tiga Dekade Menjaga Tradisi Menulis di Pesantren

GSM bukan program baru. Sudah lebih dari tiga dekade, gerakan ini hadir di berbagai pondok pesantren dengan tujuan yang konsisten: melatih kemampuan jurnalistik dan kepenulisan santri agar mereka punya bekal untuk menghadapi tantangan zaman.
Di tengah era di mana siapa pun bisa memproduksi dan menyebarkan informasi hanya lewat genggaman tangan, kemampuan menulis dengan baik dan bertanggung jawab menjadi semakin krusial. Santri, yang selama ini dikenal kuat dalam tradisi keilmuan pesantren, kini didorong untuk juga hadir di ruang-ruang digital—bukan sebagai konsumen pasif, melainkan sebagai penulis dan pemikir yang aktif.
Tiga Tokoh, Satu Pesan yang Sama
Pembukaan GSM ke-32 dihadiri tiga tokoh dari latar belakang yang berbeda, namun membawa semangat yang searah:
• Prof. H. Abu Rokhmad, M.Ag — Dirjen Bimas Islam RI, mewakili komitmen pemerintah dalam mendukung pendidikan pesantren yang adaptif.
• KH. Ahmad Daroji — Ketua MUI & BAZNAS Jawa Tengah, membawa perspektif ulama tentang pentingnya dakwah yang merespons perkembangan zaman.
• Harjanto Halim — CEO PT Marimas Putera Kencana, hadir mewakili sektor swasta yang percaya bahwa investasi terbaik adalah investasi pada kemampuan generasi muda.
Kehadiran ketiganya bukan kebetulan. Ini mencerminkan bagaimana ekosistem pendidikan yang sehat membutuhkan sinergi dari berbagai pihak pemerintah, ulama, dan dunia usaha bukan berjalan sendiri-sendiri.
Santri Jangan Hanya Jadi Penonton
Dalam sesinya, Harjanto Halim berbicara langsung dan to the point. Ia tidak datang membawa ceramah panjang tentang teknologi—ia datang dengan satu pertanyaan sederhana yang relevan: di era digital seperti sekarang, di mana posisi santri?
Santri di era digital jangan hanya menjadi penonton. Saatnya santri menjadi penggerak kebaikan dengan menciptakan konten-konten positif, kreatif, dan menyejukkan.
Harjanto Halim, CEO PT Marimas Putera Kencana
Pesan ini menyentuh sesuatu yang penting: selama ini, wacana soal santri dan teknologi sering berhenti di level “bagaimana agar santri tidak terpengaruh konten negatif.” Harjanto membaliknya ia mendorong santri untuk justru menjadi pihak yang mengisi ruang digital, bukan sekadar menghindarinya. Dakwah dan syiar Islam, menurutnya, tidak harus terbatas di atas mimbar tulisan yang baik dan konten yang jernih pun bisa jadi jalan.
Dari Pesantren untuk Dunia Digital
Yang menarik dari GSM adalah pendekatannya yang tidak hanya melatih santri secara teknis cara menulis berita, cara menyusun opini—tapi juga membangun kesadaran bahwa tulisan adalah tanggung jawab. Bahwa setiap kata yang diterbitkan, baik di media cetak maupun di media sosial, punya dampak.
Di tengah banjir informasi yang tidak selalu bisa dipercaya, penulis-penulis muda dari kalangan pesantren bisa punya peran yang nyata: menghadirkan suara yang tenang, berisi, dan bisa dipertanggungjawabkan.
GSM ke-32 baru saja dimulai. Tapi dari momen pembukaannya, sudah terasa bahwa generasi santri berikutnya sedang bersiap untuk hadir—bukan hanya di pesantren, tapi juga di layar-layar yang kita pegang setiap hari.


