Kolaborasi Universitas Karang Turi dan Marimas Jumbo: Distribusi 800 Paket Takjil untuk Masyarakat Semarang
Semarang, 12 Maret 2026 — Universitas Karang Turi Semarang menyelenggarakan kegiatan sosial pembagian takjil di Jalan Gajahmada, Semarang, menjelang waktu berbuka puasa pada Kamis, 12 Maret 2026. Kegiatan ini terlaksana atas kolaborasi dengan Marimas Jumbo, salah satu merek minuman serbuk buah yang telah dikenal luas oleh masyarakat Indonesia.
Sebanyak 800 paket takjil berhasil didistribusikan kepada masyarakat yang melintas di kawasan Jalan Gajahmada. Pemilihan lokasi ini didasarkan pada pertimbangan strategis, mengingat kawasan tersebut merupakan salah satu titik keramaian di pusat Kota Semarang yang dapat menjangkau berbagai lapisan masyarakat — mulai dari pejalan kaki, pengendara kendaraan bermotor, pengemudi ojek online, hingga pedagang kaki lima.
Antusiasme masyarakat terlihat jelas sejak tim Universitas Karang Turi tiba di lokasi. Warga yang melintas secara tertib mengambil paket takjil yang telah disiapkan. Marimas Jumbo hadir sebagai pelengkap minuman segar yang tepat untuk menemani momen berbuka puasa, terutama setelah seharian beraktivitas di bawah terik matahari.
Kegiatan ini mencerminkan komitmen Universitas Karang Turi sebagai institusi pendidikan yang turut berperan aktif dalam pemberdayaan dan kepedulian sosial terhadap masyarakat sekitar. Kolaborasi dengan Marimas Jumbo juga menegaskan sinergi positif antara dunia akademik dan industri dalam mewujudkan nilai-nilai kebersamaan, khususnya di bulan Ramadan.
Melalui inisiatif ini, Universitas Karang Turi dan Marimas Jumbo berharap dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat serta menginspirasi pihak-pihak lain untuk turut berkontribusi dalam kegiatan sosial serupa selama bulan Ramadan 1447 H.
150 Tahun Boen Hian Tong: Merayakan Tradisi, Mengenang Gus Dur dan Memajukan Toleransi di Pecinan Semarang
Suasana di Gang Pinggir No. 31, Kranggan, tampak berbeda pada Selasa (03/03/2026). Gedung perkumpulan Boen Hian Tong (Rasa Dharma) yang bersejarah menjadi titik temu bagi berbagai lapisan masyarakat dalam sebuah perayaan multi-peristiwa yang sarat makna.
Tahun ini merupakan tonggak sejarah yang istimewa. Selain memperingati HUT ke-150 Boen Hian Tong, acara ini dirangkaikan dengan Peringatan Cap Go Meh, Haul KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), serta aksi sosial pembagian takjil dan buka puasa bersama lintas agama.
Simbol Harmoni di Ruang Akulturasi

Sejak sore hari, halaman gedung dipenuhi oleh warga dari berbagai latar belakang etnis dan agama. Kehadiran tokoh-tokoh lintas iman mempertegas peran Boen Hian Tong selama satu setengah abad sebagai wadah pemersatu, bukan sekadar organisasi sosial-budaya Tionghoa.
Rangkaian Kegiatan Utama

Acara berlangsung khidmat namun meriah dengan beberapa agenda penting:
- Peringatan HUT ke-150 Boen Hian Tong: Refleksi perjalanan panjang organisasi dalam menjaga warisan budaya di Semarang.
- Haul Gus Dur: Doa bersama lintas iman untuk mengenang warisan pemikiran dan perjuangan kemanusiaan beliau.
- Cap Go Meh Berbagi: Penutupan rangkaian Tahun Baru Imlek dengan semangat gotong royong.
- Solidaritas Ramadan: Pembagian takjil di depan gedung kepada masyarakat umum, dilanjutkan dengan buka puasa bersama yang diikuti oleh komunitas lintas etnis dan agama.
Kesegaran dalam Kebersamaan: Peran Marifood
Kemeriahan acara ini tak lepas dari dukungan berbagai pihak yang peduli pada nilai toleransi. Marifood, melalui produk unggulannya Marimas, turut ambil bagian dalam menyukseskan gelaran ini.
Kehadiran Marimas tidak hanya menjadi penyegar bagi para tamu undangan dan peserta acara di tengah cuaca Semarang, tetapi juga menjadi bagian penting dalam aksi sosial. Produk Marimas dibagikan secara luas sebagai menu takjil yang praktis dan menyegarkan bagi warga sekitar yang menjalankan ibadah puasa, menambah kehangatan suasana berbagi di depan gedung Rasa Dharma.
Pesan Persatuan dari Harjanto Halim

Ketua Boen Hian Tong, Harjanto Halim, menegaskan bahwa usia 150 tahun adalah momentum refleksi sekaligus peneguhan arah.
“Seratus lima puluh tahun bukan perjalanan yang pendek. Boen Hian Tong berdiri bukan hanya untuk komunitas Tionghoa, tetapi untuk kebersamaan yang lebih luas. Kami ingin terus menjadi rumah kebajikan, ruang dialog, dan jembatan persaudaraan di tengah masyarakat,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa satu setengah abad Boen Hian Tong adalah bukti nyata bahwa tradisi dapat berjalan beriringan dengan nilai kemanusiaan yang universal.
All photos taken by @suwitowito21
Banjir Demak Belum Surut, Marifood Sudah Sampai di Pasar Mintreng
Beberapa waktu lalu, banjir merendam sebagian wilayah Kabupaten Demak. Pasar Mintreng termasuk yang terdampak cukup berat puluhan kios terendam, aktivitas jual beli terhenti, dan para pedagang harus menanggung kerugian yang tidak sedikit. Di antara mereka, ada para mitra outlet Marifood yang selama ini menjadi bagian dari jaringan distribusi produk kami di wilayah tersebut.
Begitu kondisi lapangan memungkinkan, tim Marifood langsung bergerak turun ke lokasi.
Kios Terendam, Tapi Semangat Tidak Ikut Hanyut
Banjir di Demak bukan cerita baru. Wilayah ini memang termasuk yang rentan terhadap banjir kiriman dari daerah hulu, terutama saat intensitas hujan tinggi di akhir musim penghujan. Tapi setiap kali banjir datang, dampaknya nyata: dagangan basah, stok rusak, kios tutup berhari-hari, dan penghasilan yang ikut terhenti.
Di Pasar Mintreng, situasinya tidak jauh berbeda. Saat tim Marifood tiba, sebagian kios masih dalam proses pembersihan. Tapi yang menarik perhatian bukan kerusakannya melainkan cara para pemilik outlet menghadapinya. Mereka tetap datang, tetap membersihkan kios mereka, dan tetap berencana untuk buka kembali.
Marifood Hadir Bukan Hanya di Saat Cuaca Baik

Kunjungan ini bukan sekadar aksi simbolis. Tim Marifood menyerahkan bantuan paket produk langsung kepada mitra outlet yang terdampak sebagai dukungan konkret agar mereka bisa mulai mengisi kembali stok kios dan beroperasi lebih cepat.
Melihat kondisi lapangan saat ini memang tidak mudah. Tapi semangat para pemilik outlet inilah yang justru memotivasi kami untuk bisa sampai di sini secepat mungkin.
Perwakilan Tim Marifood
Bagi Marifood, mitra outlet adalah bagian dari ekosistem yang sudah dibangun bersama bertahun-tahun. Mereka bukan sekadar titik distribusi di peta—mereka adalah orang-orang yang setiap hari membawa produk Marifood ke tangan konsumen, dari warung ke warung, dari gang ke gang. Ketika mereka kesulitan, wajar jika kami juga hadir.
Pulih Bareng, Tumbuh Bareng
Pemulihan pasca banjir tidak terjadi dalam semalam. Ada kios yang perlu dibersihkan dari lumpur, ada stok yang harus dihitung ulang, ada pelanggan yang perlu diyakinkan kembali bahwa warung favorit mereka sudah buka. Proses ini butuh waktu, dan yang paling membantu di masa seperti ini adalah tahu bahwa kamu tidak menjalaninya sendiri.
Itulah yang ingin disampaikan Marifood lewat kunjungan ini: kami ada, dan kami tidak pergi hanya karena situasi sedang sulit.
Untuk Bapak dan Ibu pemilik outlet di Pasar Mintreng dan seluruh wilayah Demak yang terdampak semoga pemulihan berjalan lancar, kios kembali ramai, dan rezeki kembali mengalir. Marifood tumbuh karena Anda, dan kami akan terus ada untuk tumbuh bersama Anda.
Gerakan Santri Menulis ke-32: Ketika Pesantren Mulai Bicara Lebih Keras di Dunia Digital
Gerakan Santri Menulis bisa bertahan hingga 32 kali penyelenggaraan. Sabtu, 21 Februari 2026, Pondok Pesantren Azzuhri Semarang menjadi tuan rumah pembukaan GSM ke-32 sebuah program yang sejak awal punya misi sederhana tapi tidak mudah: membiasakan santri untuk menulis, berpikir kritis, dan menyampaikan gagasan mereka dengan jernih.
Tiga Dekade Menjaga Tradisi Menulis di Pesantren

GSM bukan program baru. Sudah lebih dari tiga dekade, gerakan ini hadir di berbagai pondok pesantren dengan tujuan yang konsisten: melatih kemampuan jurnalistik dan kepenulisan santri agar mereka punya bekal untuk menghadapi tantangan zaman.
Di tengah era di mana siapa pun bisa memproduksi dan menyebarkan informasi hanya lewat genggaman tangan, kemampuan menulis dengan baik dan bertanggung jawab menjadi semakin krusial. Santri, yang selama ini dikenal kuat dalam tradisi keilmuan pesantren, kini didorong untuk juga hadir di ruang-ruang digital—bukan sebagai konsumen pasif, melainkan sebagai penulis dan pemikir yang aktif.
Tiga Tokoh, Satu Pesan yang Sama
Pembukaan GSM ke-32 dihadiri tiga tokoh dari latar belakang yang berbeda, namun membawa semangat yang searah:
• Prof. H. Abu Rokhmad, M.Ag — Dirjen Bimas Islam RI, mewakili komitmen pemerintah dalam mendukung pendidikan pesantren yang adaptif.
• KH. Ahmad Daroji — Ketua MUI & BAZNAS Jawa Tengah, membawa perspektif ulama tentang pentingnya dakwah yang merespons perkembangan zaman.
• Harjanto Halim — CEO PT Marimas Putera Kencana, hadir mewakili sektor swasta yang percaya bahwa investasi terbaik adalah investasi pada kemampuan generasi muda.
Kehadiran ketiganya bukan kebetulan. Ini mencerminkan bagaimana ekosistem pendidikan yang sehat membutuhkan sinergi dari berbagai pihak pemerintah, ulama, dan dunia usaha bukan berjalan sendiri-sendiri.
Santri Jangan Hanya Jadi Penonton
Dalam sesinya, Harjanto Halim berbicara langsung dan to the point. Ia tidak datang membawa ceramah panjang tentang teknologi—ia datang dengan satu pertanyaan sederhana yang relevan: di era digital seperti sekarang, di mana posisi santri?
Santri di era digital jangan hanya menjadi penonton. Saatnya santri menjadi penggerak kebaikan dengan menciptakan konten-konten positif, kreatif, dan menyejukkan.
Harjanto Halim, CEO PT Marimas Putera Kencana
Pesan ini menyentuh sesuatu yang penting: selama ini, wacana soal santri dan teknologi sering berhenti di level “bagaimana agar santri tidak terpengaruh konten negatif.” Harjanto membaliknya ia mendorong santri untuk justru menjadi pihak yang mengisi ruang digital, bukan sekadar menghindarinya. Dakwah dan syiar Islam, menurutnya, tidak harus terbatas di atas mimbar tulisan yang baik dan konten yang jernih pun bisa jadi jalan.
Dari Pesantren untuk Dunia Digital
Yang menarik dari GSM adalah pendekatannya yang tidak hanya melatih santri secara teknis cara menulis berita, cara menyusun opini—tapi juga membangun kesadaran bahwa tulisan adalah tanggung jawab. Bahwa setiap kata yang diterbitkan, baik di media cetak maupun di media sosial, punya dampak.
Di tengah banjir informasi yang tidak selalu bisa dipercaya, penulis-penulis muda dari kalangan pesantren bisa punya peran yang nyata: menghadirkan suara yang tenang, berisi, dan bisa dipertanggungjawabkan.
GSM ke-32 baru saja dimulai. Tapi dari momen pembukaannya, sudah terasa bahwa generasi santri berikutnya sedang bersiap untuk hadir—bukan hanya di pesantren, tapi juga di layar-layar yang kita pegang setiap hari.
Gebyuran Bustaman ke-14: Tradisi Perang Air yang Sudah 14 Tahun Jadi Cara Warga Bustaman Semarang Sambut Ramadan
Kalau Anda pernah melintasi gang-gang sempit di Kampung Bustaman menjelang Ramadan, Anda pasti pernah pulang dengan baju basah kuyup dan senyum yang susah hilang. Itulah Gebyuran Bustaman, tradisi tahunan yang tahun ini memasuki penyelenggaraan ke-14. Digagas bersama oleh warga Kampung Bustaman dan Kolektif Seni Grobak Hysteria, acara ini kembali membuktikan bahwa cara paling meriah untuk menyambut bulan puasa adalah dengan basah-basahan bareng tetangga.
Lebih dari Sekadar Main Air

Gebyuran Bustaman berakar dari tradisi adusan—ritual mandi pembersihan diri yang sudah lama dikenal dalam budaya Jawa sebagai bagian dari persiapan menyambut Ramadan. Dalam kepercayaan masyarakat setempat, membersihkan diri secara lahiriah melambangkan kesungguhan untuk juga membersihkan hati sebelum memasuki bulan ibadah.
Kampung Bustaman sendiri punya sejarah panjang. Kawasan ini dikenal sebagai salah satu perkampungan tua di Semarang yang dulu terkenal dengan jagal kambing dan kost-kostan para pedagang. Kini, kampung ini justru dikenal lewat tradisinya yang unik: merayakan kedatangan Ramadan dengan semangat komunal yang jarang ditemukan di tempat lain.
Diawali Wedak Adem, Ditutup dengan Perang Air

Sebelum air tumpah ruah, ada satu ritual pembuka yang tidak kalah seru: saling mencoret wajah dengan wedak adem—bedak dingin warna-warni yang dibuat dari bahan-bahan alami. Wajah-wajah yang semula serius berubah jadi kanvas berwarna: ada yang biru, ada yang kuning, ada yang merah. Tawa meledak di mana-mana bahkan sebelum setetes air pun jatuh.
Barulah setelah itu, puncak acara dimulai. Saat aba-aba terdengar, ember-ember air yang sudah disiapkan langsung tumpah ke segala arah. Tidak ada yang aman, tidak ada yang benar-benar ingin menghindar. Tua, muda, warga lokal, wisatawan—semua melebur dalam basah-basahan yang penuh kegembiraan. Di sinilah letak keistimewaan Gebyuran: tidak ada hierarki, tidak ada batas usia. Yang ada hanya tawa dan air.
Marimas Jumbo: Teman Setia Setelah Basah Kuyup

Habis perang air, tubuh memang basah—tapi tenggorokan tetap bisa haus. Di sinilah Marimas hadir sebagai pelengkap yang pas. Tahun ini, Marimas turut memeriahkan Gebyuran Bustaman ke-14 dengan menghadirkan Marimas Jumbo untuk para peserta.
Sebelum dan sesudah aksi saling gebyur, minuman rasa buah segar berukuran jumbo ini jadi cara paling sederhana untuk melepas dahaga dan mengisi kembali energi. Karena kalau sudah basah kuyup di bawah terik Semarang, yang paling enak memang duduk sebentar dan meneguk sesuatu yang segar.
“Bersih hatinya, segar suasananya!”
Bukan sekadar slogan—tapi gambaran nyata suasana Gebyuran Bustaman tahun ini.
Merawat Tradisi, Merayakan Ramadan

Kehadiran Marimas di Gebyuran Bustaman bukan sekadar soal minuman. Ini adalah bentuk dukungan nyata terhadap pelestarian tradisi lokal yang punya nilai budaya tinggi. Gebyuran mengajarkan bahwa menyambut Ramadan tidak harus khidmat dalam sunyi bisa juga ramai, basah, dan penuh tawa, selama niatnya sama: membersihkan diri dan membuka hati.
Dan selama tradisi ini terus dirayakan, Marimas akan terus ada menemani warga Semarang menyambut bulan suci dengan semangat yang segar.
Gallery Foto Keseruan Acara Gebyuran Bustaman 2026
Pasar Imlek Semawis 2026: Toleransi yang Dirayakan, Bukan Sekadar Dikhotbahkan
Sabtu malam, 14 Februari 2026, kawasan Gang Pinggir hingga Wotgandul Timur di Pecinan Semarang berubah jadi lautan manusia. Di bawah ribuan lampion merah yang menyala hangat, Pasar Imlek Semawis 2026 resmi dibuka. Tapi lebih dari sekadar perayaan tahun baru Imlek, malam itu menjadi pengingat bahwa keberagaman di Jawa Tengah bukan sesuatu yang perlu dipersoalkan melainkan alasan untuk berkumpul dan bergembira bersama.
Wapres Hadir, Ekonomi Rakyat Bergerak

Salah satu momen yang paling disorot malam itu adalah kehadiran Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Didampingi oleh Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi dan CEO Marifood Harjanto Halim, Wapres menyusuri lorong-lorong pasar Imlek Semawis dengan santai berhenti di beberapa gerobak kuliner, menyapa pedagang, dan mencicipi jajanan khas Semarang.
Dari sepiring Lumpia Semarang yang gurih hingga gulungan Arum Manis yang manis, kunjungan ini bukan seremoni semata. Ini adalah bukti nyata bahwa ekonomi rakyat bergerak lewat langkah kaki dan percakapan langsung antara pemimpin dan warga, tanpa sekat.
Ketika Budaya Tionghoa dan Jawa Berpadu di Bawah Lampion

Yang membuat Semawis selalu istimewa adalah perpaduan budaya yang terjadi secara alami di dalamnya. Tahun ini, pengunjung kembali disuguhi dua pemandangan yang jarang bisa ditemui berdampingan di tempat lain:
• Wayang Potehi — pertunjukan wayang boneka khas Tionghoa yang menjadi salah satu warisan budaya paling langka di Indonesia.
• Kebaya di Bawah Lampion Merah — imbauan mengenakan kebaya saat berkunjung menciptakan perpaduan unik antara identitas nasional dan nuansa Tionghoa yang kental.
“Pecinan adalah miniatur Indonesia—tempat toleransi tidak lagi dikhotbahkan, tapi dijalani secara nyata setiap harinya.”
Harjanto Halim, CEO Marifood
Festival Milik Semua, Bukan Milik Satu Golongan

Jika dulu Imlek identik dengan satu komunitas tertentu, Semawis sudah lama mengubah persepsi itu. Tahun demi tahun, festival ini berhasil menarik ribuan warga dari berbagai latar belakang etnis dan agama dan mereka tidak datang sebagai penonton, melainkan sebagai bagian dari perayaan itu sendiri.
Inilah yang membuat Semawis punya tempat tersendiri di hati warga Semarang. Di sini, orang-orang dari berbagai penjuru duduk di meja yang sama, makan makanan yang sama, dan tertawa bersama. Tidak ada yang perlu menjelaskan bahwa mereka “toleran”—karena toleransi itu sudah terjadi dengan sendirinya, dalam setiap langkah dan sapaan.
Semawis adalah pengingat bahwa di tengah perbedaan, kita selalu punya ruang untuk merayakan kebersamaan—dan mewariskan semangat itu kepada generasi berikutnya.












